Dari Puncak ke Aksi Nyata, LMP Siap Jadi Garda Terdepan Penanggulangan Bencana
JAKARTA, CARIBERITA – Tidak butuh waktu lama, tindak lanjut arahan Ketua Umum LMP H. M. Arsyad Cannu dalam rapat evaluasi konsolidasi Pokja 1-5 di Puncak semalam langsung dijalankan.
Wakil Ketua Umum Penanggulangan Bencana dan SAR LMP, Yoseph Lumbanraja, didampingi Wakil Ketua Umum Kebudayaan yang juga Penasehat FMI DKI Jakarta, Thia Samsudin, menggelar silaturahmi dan diskusi strategis bersama Organisasi Pecinta Alam Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) di kegiatan Pelatihan Wilderness First Aid FMI 2026, Jakarta Timur, Jumat (17/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas sinergi dan pembentukan *Team Rescue Laskar Merah Putih (LMP)* sebagai wujud nyata transformasi LMP menjadi organisasi yang berkualitas, profesional, dan responsif terhadap kemanusiaan.
Jalankan Misi Visi Ketua Umum
Yoseph Lumbanraja mengatakan, kegiatan ini merupakan perintah langsung dari Ketua Umum saat rapat konsolidasi untuk segera menjalankan program kerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sesuai arahan dan perintah Ketua Umum saat rapat evaluasi konsolidasi Pokja semalam, kami diperintahkan untuk segera menjalankan program dan misi visi kerja organisasi untuk menjadi organisasi yang berkualitas,” ujar Yoseph Lumbanraja.
Menurutnya, LMP tidak boleh hanya besar secara struktur, tetapi harus hadir saat rakyat membutuhkan, terutama dalam situasi bencana alam yang sering terjadi di Indonesia.
“Indonesia ini rawan bencana. LMP sebagai ormas terbesar dan tertua yang lahir dari rahim rakyat harus hadir paling depan. Kita ingin membentuk Team Rescue LMP yang terlatih, tangguh, dan memiliki standar SAR nasional,” tegas Yoseph.
Team Rescue LMP nantinya akan diisi oleh kader-kader LMP dari seluruh Indonesia yang memiliki kemampuan mountaineering, navigasi, survival, dan pertolongan pertama, dengan pembinaan langsung dari FMI.
Peran Kebudayaan dan Kemanusiaan
Sementara itu, Waketum Kebudayaan Thia Samsudin menambahkan, kolaborasi dengan pecinta alam adalah jembatan antara nilai kebudayaan, cinta alam, dan jiwa kemanusiaan.
Pecinta alam itu bukan hanya soal mendaki gunung, tetapi soal menjaga alam dan menjaga kemanusiaan. Nilai ini sangat sejalan dengan doktrin LMP, NKRI Harga Mati. Mencintai alam adalah bagian dari mencintai tanah air,” ujar Thia Samsudin.
Ia menegaskan, melalui Team Rescue LMP, citra LMP akan semakin kuat sebagai organisasi yang intelektual, humanis, dan dicintai rakyat.
“Ini bukti nyata, LMP yang selama ini dilihat keras, ternyata punya pemikiran, punya kepedulian, dan punya aksi nyata untuk kemanusiaan. Inilah LMP yang intelektual,” tambahnya.
Sinergi dengan FMI
Perwakilan Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) menyambut baik silaturahmi tersebut. FMI menilai LMP memiliki jaringan yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke, hingga ke tingkat anak ranting, yang menjadi modal besar untuk membentuk tim rescue yang cepat merespon bencana di daerah.

Rencananya, dalam waktu dekat akan digelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Team Rescue LMP angkatan pertama yang melibatkan instruktur bersertifikat dari FMI dan Badan Penanggulangan Bencana.
Dengan terbentuknya Team Rescue LMP, diharapkan LMP semakin dihormati pemerintah dan semakin dicintai rakyat, sejalan dengan arahan Ketua Umum untuk menjadi Jembatan, Mitra Kritis, dan Mitra Strategis Pemerintah.
Hadir dalam pertemuan: Waketum Penanggulangan Bencana dan SAR Yoseph Lumbanraja, Waketum Kebudayaan Thia Samsudin, Waketum PU, dan jajaran pengurus Federasi Mountaineering Indonesia (FMI).
Penulis : Nia




















