Kebun Sawit Seluas 5 Hektar Terbakar, Warga Kayan Hilir Rugi Ratusan Juta Rupiah
SINTANG, CARIBERITA — Kebakaran lahan kembali menelan korban. Akiam (62), seorang warga Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, harus mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah setelah kebun kelapa sawit miliknya seluas 5 hektar ludes terbakar.
Peristiwa tersebut disampaikan oleh Ketua Kelompok Penyuluh Satgas Karhutla TNI wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra Prasada, S.T., M.M., dalam rilis resminya di Sintang, Selasa (1/9/2026).
Kronologi Kejadian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebun sawit berumur 2 tahun yang terletak di Belonti, Desa Monbai Begunuk, Kecamatan Kayan Hilir, itu terbakar pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 19.45 WIB. Sebanyak 500 pohon sawit hangus dilalap si jago merah.
Akiam menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar, melainkan menggunakan alat berat berupa excavator kecil. Hingga kini, pelaku di balik kebakaran tersebut belum diketahui.
”Saya tidak pernah membuka lahan dengan cara membakar, tapi gunakan excavator,” tegas Akiam.
Terbentur Aturan Adat dan Kerugian Material
Menurut Kolonel Saptarendra, aturan adat di Kayan Hilir sangat ketat terkait kebakaran lahan. Berdasarkan ketentuan adat setempat, penggantian kerugian untuk setiap pohon sawit yang terbakar dipatok sebesar Rp250.000 per pohon.
Jika pelakunya tertangkap, total denda adat yang harus dibayarkan mencapai sekitar Rp100 juta lebih. Namun, karena pelaku tidak diketahui, Akiam hanya bisa pasrah menanggung kerugian seorang diri.
Langkah Preventif Satgas Karhutla TNI
Kasus ini ditemukan saat tim penyuluh pencegahan dan pengendalian Karhutla TNI melakukan kegiatan komunikasi sosial serta dialog dengan aparat dan tokoh adat setempat.
Kolonel Saptarendra yang merupakan lulusan Akmil 1996 ini didampingi oleh tim penyuluh Satgas Karhutla lainnya, yakni Kolonel Laut (Kh) Chumaedy, Kolonel Kes Robbi Mandolin, serta Babinsa Koramil 1205-17/Kayan Hilir Sertu Daniel.
”Akibat kelalaian seseorang, bisa berdampak terhadap kerugian orang lain yang nilainya sangat besar,” ujar Saptarendra.
Sebagai langkah antisipasi, tim penyuluh berencana memperluas edukasi tidak hanya kepada petani, tetapi juga kepada para pemuda dan anak-anak sekolah.
Kebakaran diduga bisa terjadi secara tiba-tiba di musim kemarau akibat pemicu kecil seperti puntung rokok di tengah ranting dan daun yang mengering.
Harapan Korban
Meski harus merugi, Akiam menyambut baik kunjungan dan penyuluhan dari Satgas Karhutla TNI. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat bisa lebih waspada.
Dalam kesempatan tersebut, Akiam juga menyampaikan keinginannya untuk mengikuti program asuransi pertanian guna mengantisipasi risiko di masa depan, asalkan prosedur dan besaran premi tahunannya terjangkau.
”Terima kasih atas kunjungannya, semoga ini bisa menyadarkan warga untuk lebih hati-hati. Dari kejadian ini, saya juga sebenarnya ingin ikut asuransi, tapi belum tahu bagaimana prosedurnya,” pungkas Akiam penuh harap.
Sumber Berita: Dispenad





















